Gudang & Dapur Pusat

Dari karung tepung sampai roti yang laku di etalase. Dan akhirnya terjawab: satu roti itu modalnya berapa.

Untuk bisnis makanan dengan satu dapur dan beberapa cabang · 18 slide

Isi pembahasan

Tiga bagian

Slide 3–5

Yang membuat repot

Apa yang sebenarnya dikeluhkan pemilik, dan bisnis seperti apa yang cocok dengan pembahasan ini.

Slide 6–16

Cara kerjanya

Kirim barang antar lokasi, minta bahan ke gudang, urusan satuan, harga modal, produksi dapur, sampai jejaknya.

Slide 17–18

Membuktikannya

Alur demo delapan menit, dan cara memulai bertahap tanpa perlu mengubah semuanya sekaligus.

Yang membuat repot

Biasanya mereka yang cerita duluan

Empat kalimat ini keluar sebelum kita sempat menyebut fitur apa pun. Kalau calon pelanggan mengangguk di salah satunya, sisa presentasi ini relevan untuk dia.

“Tepung habis, tapi tidak ada yang tahu sejak kapan.” Stok bahan hanya ada di kepala orang gudang. Atau di buku yang tidak pernah dibuka lagi.
“Cabang minta barang lewat WhatsApp, sering terlewat atau salah kirim.” Permintaannya tidak berbentuk dokumen. Begitu ada selisih, tidak ada yang bisa dicek ulang.
“Saya tidak tahu satu roti modalnya berapa.” Harga bahan naik-turun tiap bulan, tapi harga jualnya masih memakai hitungan lama.
“Barang keluar dari gudang, tidak sampai di cabang, tidak bisa dilacak.” Tidak ada surat jalan, tidak ada konfirmasi terima.

Kecocokan

Cocok untuk siapa — dan untuk siapa belum

Cocok

  • Bakery dengan satu dapur dan beberapa outlet
  • Kedai martabak, donat, roti yang sudah punya cabang
  • Katering dengan dapur produksi terpusat
  • Frozen food yang produksinya di satu tempat

Belum cocok

  • Waralaba dengan cabang milik orang lain — itu jual-beli antar perusahaan, bukan sekadar perpindahan stok
  • Warung satu titik tanpa dapur terpisah — tidak ada barang yang berpindah lokasi

Menyebutkannya dari awal jauh lebih enak daripada ketahuan saat proyeknya sudah berjalan setengah.

Cara kerjanya

Barang hanya bergerak satu arah

Supplier Gudang Dapur Cabang Terjual

Gudang menyimpan bahan mentah, dan boleh mengirim ke dapur maupun langsung ke cabang. Dapur mengolah, lalu mengirim ke cabang. Cabang sendiri? Tidak pernah mengirim ke mana-mana.

Kalau ada barang yang harus kembali, jalurnya retur — supaya sebabnya ikut terlihat: rusak, salah kirim, atau kelebihan. Surat jalan yang dibalik justru menghapus informasi itu.

Arah yang salah ditolak sistem, lengkap dengan alasannya.

Pengiriman

Barang tidak bisa hilang di jalan

  • Setiap kiriman punya surat jalan bernomor dan QR
  • Stok berpindah saat penerima konfirmasi, bukan saat dikirim
  • Selama di jalan, barang masih tercatat di lokasi asal
  • Penerima mencatat berapa yang diterima dan berapa yang ditolak

Kenapa ini penting

Kalau stok dipotong saat kirim, barang yang belum sampai jadi tidak ada di mana-mana. Sudah keluar dari gudang, belum masuk cabang. Selisih seperti ini tidak akan ketemu pangkalnya.

“Kalau ada selisih, yang ditanya bukan orangnya — yang dibuka dokumennya.”

Pengiriman

Selisih jadi dokumen, bukan bahan ribut

Barang datang 100, yang bagus hanya 95. Lima sisanya tidak hilang begitu saja.

Yang diterima

Masuk stok penerima, langsung bisa dipakai.

Yang ditolak

Jadi dokumen retur beserta sebabnya. Baru dihitung rusak setelah returnya dikonfirmasi sampai kembali.

Stok pengirim

Berkurang sebanyak diterima + ditolak. Keduanya memang sudah keluar dari gudang.

Tanpa aturan yang terakhir, barang yang ditolak bisa terhitung dua kali dan stok gudang membengkak sendiri.

Permintaan bahan

Memesan tanpa menebak

Dapur membuka satu halaman, dan stok yang ada di gudang langsung terlihat per bahan. Tidak perlu bertanya dulu, tidak perlu menunggu dibalas.

BahanAda di gudangYang diminta
Tepung2.100 kg50 kg
Gula180 kg20 kg
Abon12 kg15 kg

Baris terakhir sengaja: yang diminta lebih banyak dari yang tersedia. Lanjut ke slide berikutnya.

Permintaan bahan

Longgar saat meminta, ketat saat menyetujui

Saat dapur meminta

Boleh meminta lebih banyak dari stok yang ada. Sistem hanya memberi peringatan, tidak menolak.

Saat gudang menyetujui

Di sini stok baru diperiksa sungguhan. Gudang boleh menyanggupi sebagian — 12 dari 15.

Sistem yang menolak permintaan hanya karena stok sedang kosong akan ditinggalkan penggunanya. Ujung-ujungnya kembali lagi ke WhatsApp.

Yang jarang ada di POS lain

Belinya karung, terpakainya gram

Nota supplier menulis kilogram. Resep menulis gram. Selama ini yang menjembatani hanya kalkulator di tangan orang gudang.

Di nota supplier10 KG
×
Angka konversi1.000
=
Tercatat di stok10.000 g

Diisi sekali saja waktu mendaftarkan bahannya. Setelah itu resep boleh menulis “250 gram tepung” tanpa ada yang menghitung ulang lagi. Selamanya.

Yang jarang ada di POS lain

Harga modal memperbaiki dirinya sendiri

Begitu barang dikonfirmasi datang, harga modalnya ikut diperbarui dari harga di pesanan pembelian tadi — sudah dibagi ke satuan simpan.

Harga di PORp2.500 / KG
÷ 1.000
Harga modalRp2,5 / g

Supplier menaikkan harga, harga pokok produk menyesuaikan sendiri. Tidak ada yang perlu ingat untuk mengeditnya. Inilah yang membuat pertanyaan “satu roti modalnya berapa” akhirnya punya jawaban.

Yang dipakai harga beli terakhir, bukan rata-rata. Untuk bahan yang harganya naik-turun ekstrem, sebutkan apa adanya.

Dapur pusat

Gudang dan dapur benar-benar terpisah

Gudang

Isinya bahan mentah. Tugasnya membeli, menyimpan, memasok.

Dapur

Mengolah bahan jadi adonan atau barang jadi.

Cabang

Menjual ke pembeli.

Stok, menu, dan hak aksesnya terpisah. Kepala dapur bisa diberi akses dapur saja, tanpa ikut memegang stok gudang.

Dapur pusat

Produksi dicatat seperti surat perintah kerja

  • Dibuat draft dulu — stok belum bergerak, masih bisa dibatalkan
  • Saat diselesaikan: bahan berkurang, hasilnya bertambah
  • Susut dicatat tersendiri — berapa yang gagal atau terbuang
  • Biaya per hasil dihitung dari bahan yang benar-benar terpakai

Susut yang biasanya lenyap

Di kebanyakan tempat, adonan yang gagal dibuang begitu saja tanpa catatan. Padahal itu uang yang benar-benar hilang — dan baru terlihat besarnya kalau dijumlahkan sebulan.

Dapur pusat

Produksi bertingkat, biayanya ikut tersusun

Tepung, gula, telur Adonan Roti abon

Dua perintah produksi berurutan. Adonan didaftarkan sebagai barang setengah jadi, lalu dipakai sebagai bahan di produksi berikutnya.

Biaya adonan terbentuk dari bahannya, biaya roti terbentuk dari adonan. Jadi modal per roti tidak perlu ditebak.

Bebas diatur

Dua model bisnis sekaligus

Tidak semua produk diperlakukan sama, dan tidak perlu memilih salah satu.

Model 1

Kirim barang jadi

Dapur membuat roti, cabang tinggal menjual. Bahan berkurang saat produksi.

Model 2

Kirim adonan, masak di tempat

Dapur membuat adonan, cabang menggoreng martabak saat ada pembeli. Bahan berkurang saat terjual, mengikuti resep.

Satu bisnis bisa menjalankan keduanya bersamaan. Diatur per produk.

Ini yang membuat pemilik yakin

Tidak ada yang bergerak tanpa jejak

Setiap perubahan stok tercatat: apa, berapa, di lokasi mana, saldonya jadi berapa, oleh siapa, dan terhubung ke dokumen apa.

JenisnyaTerjadi saatTerhubung ke
Barang masukmenerima kiriman suppliernomor PO
Keluar antar lokasikiriman dikonfirmasi sampainomor surat jalan
Masuk antar lokasikiriman dikonfirmasi sampainomor surat jalan
Bahan terpakaiproduksi diselesaikanperintah produksi
Hasil produksiproduksi diselesaikanperintah produksi
Susutproduksi diselesaikanperintah produksi
Penyesuaiankoreksi hitung fisikalasan & nama pencatat

Membuktikannya

Delapan menit, berakhir di angka yang mereka pedulikan

0–1Peta alurnyaBarang hanya jalan satu arah
1–2Membuat PO10 KG tepung, lalu dicetak
2–3Barang datangJadi 10.000 gram
3–4Harga modalBerubah sendiri
4–5Dapur memintaStok gudang terlihat
5–6ProduksiSusutnya ikut dicatat
6–7Kirim ke cabangTerima sebagian, sisanya ditolak
7–8Buku pergerakanSemuanya ada di sini

Tutupnya di buku pergerakan stok. Yang membuat pemilik yakin bukan banyaknya fitur, tapi kenyataan bahwa tidak ada satu pun yang bisa bergerak tanpa ketahuan.

Cara memulai

Tidak harus langsung semuanya

1 · Gudang dulu 2 · Dapur & produksi 3 · Cabang

Mulai dari gudang saja: catat pembelian dan stok bahan. Dapur menyusul kalau timnya sudah terbiasa. Cabang paling belakangan — dan tugas mereka hanya satu, konfirmasi barang datang, lewat aplikasi POS yang setiap hari sudah dipakai.

“Yang bertambah hanya dua pekerjaan. Sisanya justru menggantikan WhatsApp dan buku tulis.”

hifloo.com · Smart Business, One Platform

1 / 18
navigasi · O daftar slide · F layar penuh · Cmd+P simpan PDF

Daftar slide