Dari karung tepung sampai roti yang laku di etalase. Dan akhirnya terjawab: satu roti itu modalnya berapa.
Untuk bisnis makanan dengan satu dapur dan beberapa cabang · 18 slide
Isi pembahasan
Apa yang sebenarnya dikeluhkan pemilik, dan bisnis seperti apa yang cocok dengan pembahasan ini.
Kirim barang antar lokasi, minta bahan ke gudang, urusan satuan, harga modal, produksi dapur, sampai jejaknya.
Alur demo delapan menit, dan cara memulai bertahap tanpa perlu mengubah semuanya sekaligus.
Yang membuat repot
Empat kalimat ini keluar sebelum kita sempat menyebut fitur apa pun. Kalau calon pelanggan mengangguk di salah satunya, sisa presentasi ini relevan untuk dia.
Kecocokan
Menyebutkannya dari awal jauh lebih enak daripada ketahuan saat proyeknya sudah berjalan setengah.
Cara kerjanya
Gudang menyimpan bahan mentah, dan boleh mengirim ke dapur maupun langsung ke cabang. Dapur mengolah, lalu mengirim ke cabang. Cabang sendiri? Tidak pernah mengirim ke mana-mana.
Kalau ada barang yang harus kembali, jalurnya retur — supaya sebabnya ikut terlihat: rusak, salah kirim, atau kelebihan. Surat jalan yang dibalik justru menghapus informasi itu.
Arah yang salah ditolak sistem, lengkap dengan alasannya.
Pengiriman
Kalau stok dipotong saat kirim, barang yang belum sampai jadi tidak ada di mana-mana. Sudah keluar dari gudang, belum masuk cabang. Selisih seperti ini tidak akan ketemu pangkalnya.
“Kalau ada selisih, yang ditanya bukan orangnya — yang dibuka dokumennya.”
Pengiriman
Barang datang 100, yang bagus hanya 95. Lima sisanya tidak hilang begitu saja.
Masuk stok penerima, langsung bisa dipakai.
Jadi dokumen retur beserta sebabnya. Baru dihitung rusak setelah returnya dikonfirmasi sampai kembali.
Berkurang sebanyak diterima + ditolak. Keduanya memang sudah keluar dari gudang.
Tanpa aturan yang terakhir, barang yang ditolak bisa terhitung dua kali dan stok gudang membengkak sendiri.
Permintaan bahan
Dapur membuka satu halaman, dan stok yang ada di gudang langsung terlihat per bahan. Tidak perlu bertanya dulu, tidak perlu menunggu dibalas.
| Bahan | Ada di gudang | Yang diminta |
|---|---|---|
| Tepung | 2.100 kg | 50 kg |
| Gula | 180 kg | 20 kg |
| Abon | 12 kg | 15 kg |
Baris terakhir sengaja: yang diminta lebih banyak dari yang tersedia. Lanjut ke slide berikutnya.
Permintaan bahan
Boleh meminta lebih banyak dari stok yang ada. Sistem hanya memberi peringatan, tidak menolak.
Di sini stok baru diperiksa sungguhan. Gudang boleh menyanggupi sebagian — 12 dari 15.
Sistem yang menolak permintaan hanya karena stok sedang kosong akan ditinggalkan penggunanya. Ujung-ujungnya kembali lagi ke WhatsApp.
Yang jarang ada di POS lain
Nota supplier menulis kilogram. Resep menulis gram. Selama ini yang menjembatani hanya kalkulator di tangan orang gudang.
Diisi sekali saja waktu mendaftarkan bahannya. Setelah itu resep boleh menulis “250 gram tepung” tanpa ada yang menghitung ulang lagi. Selamanya.
Yang jarang ada di POS lain
Begitu barang dikonfirmasi datang, harga modalnya ikut diperbarui dari harga di pesanan pembelian tadi — sudah dibagi ke satuan simpan.
Supplier menaikkan harga, harga pokok produk menyesuaikan sendiri. Tidak ada yang perlu ingat untuk mengeditnya. Inilah yang membuat pertanyaan “satu roti modalnya berapa” akhirnya punya jawaban.
Yang dipakai harga beli terakhir, bukan rata-rata. Untuk bahan yang harganya naik-turun ekstrem, sebutkan apa adanya.
Dapur pusat
Isinya bahan mentah. Tugasnya membeli, menyimpan, memasok.
Mengolah bahan jadi adonan atau barang jadi.
Menjual ke pembeli.
Stok, menu, dan hak aksesnya terpisah. Kepala dapur bisa diberi akses dapur saja, tanpa ikut memegang stok gudang.
Dapur pusat
Di kebanyakan tempat, adonan yang gagal dibuang begitu saja tanpa catatan. Padahal itu uang yang benar-benar hilang — dan baru terlihat besarnya kalau dijumlahkan sebulan.
Dapur pusat
Dua perintah produksi berurutan. Adonan didaftarkan sebagai barang setengah jadi, lalu dipakai sebagai bahan di produksi berikutnya.
Biaya adonan terbentuk dari bahannya, biaya roti terbentuk dari adonan. Jadi modal per roti tidak perlu ditebak.
Bebas diatur
Tidak semua produk diperlakukan sama, dan tidak perlu memilih salah satu.
Dapur membuat roti, cabang tinggal menjual. Bahan berkurang saat produksi.
Dapur membuat adonan, cabang menggoreng martabak saat ada pembeli. Bahan berkurang saat terjual, mengikuti resep.
Satu bisnis bisa menjalankan keduanya bersamaan. Diatur per produk.
Ini yang membuat pemilik yakin
Setiap perubahan stok tercatat: apa, berapa, di lokasi mana, saldonya jadi berapa, oleh siapa, dan terhubung ke dokumen apa.
| Jenisnya | Terjadi saat | Terhubung ke |
|---|---|---|
| Barang masuk | menerima kiriman supplier | nomor PO |
| Keluar antar lokasi | kiriman dikonfirmasi sampai | nomor surat jalan |
| Masuk antar lokasi | kiriman dikonfirmasi sampai | nomor surat jalan |
| Bahan terpakai | produksi diselesaikan | perintah produksi |
| Hasil produksi | produksi diselesaikan | perintah produksi |
| Susut | produksi diselesaikan | perintah produksi |
| Penyesuaian | koreksi hitung fisik | alasan & nama pencatat |
Membuktikannya
Tutupnya di buku pergerakan stok. Yang membuat pemilik yakin bukan banyaknya fitur, tapi kenyataan bahwa tidak ada satu pun yang bisa bergerak tanpa ketahuan.
Cara memulai
Mulai dari gudang saja: catat pembelian dan stok bahan. Dapur menyusul kalau timnya sudah terbiasa. Cabang paling belakangan — dan tugas mereka hanya satu, konfirmasi barang datang, lewat aplikasi POS yang setiap hari sudah dipakai.
“Yang bertambah hanya dua pekerjaan. Sisanya justru menggantikan WhatsApp dan buku tulis.”
hifloo.com · Smart Business, One Platform